Tersentak kita ketika hari ini beberapa media memberitakan adanya
pengemis Walang bin Kilon (54) yang mengantongi Rp 25 juta dari hasil
mengemis selama 15 hari di Jakarta Selatan. Tidak percaya, mungkin itu
reaksi pertama kita ketika mendengar berita tersebut, betapa tidak
seorang pengemis mempunyai pendapatan yang fantastis. Kondisi macam apa
ini sebenarnya? ketika ada realitas sosial yang justru kontradiktif.
Selama ini masyarakat sudah terlanjur punya persepsi bahwa pengemis
adalah lapisan masyarakat terbawah dan secara sosial ekonomi mengalami
kondisi yang serba susah dan kekurangan.Dan ini menjadi tanda tanya kita
bersama ada apa ini dengan masyarakat kita? apakah telah terjadisebuah
perubahan sosial masyarakat? atau apa?
Kontradiksi Sosial
Dalam kacamata sosial dan pemahaman sosial kita semua maka pengemis
dikategorikan adalah golongan orang tidak beruntung, tidak punya
pekerjaan dan mata pencaharian untuk menopang kebutuhan hidupnya
sehingga perlu uluran tangan dari orang lain. Kontruksi sosial ini tidak
lahir begitu saja tapi karena adanya realitas yang tidak terbantahkan
dalam kontruksi sosial ekonomi dan politik masyarakat. Keterbatasan,
itulah mungkin yang menjadi alasan mereka melakukan kegiatan
meminta-minta dari orang lain, keterbatasan ini bisa dimaknai lebih luas
yaitu keterbatasan secara kapasitas individu ( baik skill, cacat fisik/
mental) maupun secara sosial ekonomi yaitu tidak adanya akses pada
sumber-sumber ekonomi yaitu lapangan pekerjaan. Pengemis memang menjadi
problem sosial bukan hanya dinegara berkembang seperti Indonesia tapi
ternyata juga dinegara-negara maju sekelas negara-negara eropa. Karena
kemiskinan satu sisi adalah sisi lain dari sisi residu pembangunan yang
tidak merata, dan ini terjadi dalam setiap proses
pembangunan,perbedaannya hanya pada ketegori dan definisi kemiskinan itu
sendiri. Tapi yang mendasar adalah ketika saat ini kemiskinan bukan
hanya menjadi realitas sosial yang tidak terbantahkan namun justru
menjadi komoditas sosial. Kemiskinan dijadikan alasan dan pembenar untuk
mendapatkan keuntungan yang besar,sebagai komoditas bukan hanya untuk
mengatasi problem kemiskinan itu sendiri namun dijadikan alat untuk
melakukan kapitalisasi. Tanpa melakukan generalisasi terhadap contoh
kasus seperti diatas tapi ini menjadi sebuah kajian yang serius bahwa
ada perspektif yang mengalami pergeseran terhadap pemahaman kondisi
kemiskinan dan kegiatan pengemis terutama dikota-kota besar. Bagaimana
tidak mereka melakukan kegiatan meminta-minta, menghiba dan menjadikan
komoditas atas keterbatasan mereka untuk mengumpulkan pundi-pundi yang
tidak semestinya. Dus keterbatasan itu mereka buat, mereka rekayasa
karena hanya untuk mendapatkan simpati.
Pengemis Dan Kontruksi Filantropi
Setidaknya kalau kita memahami secara utuh maka peminta-minta tidak akan
bertahan lama apabila tidak ada pemberi, dua sisi yang melengkapi.
Mereka pengemis bisa bertahan karena mereka mengetahui betul bahwa
masyarakat kita mudah iba,mudah tidak tega melihat orang yang dengan
keterbatasan. Apalagi kalau kita sadari adanya kontruksi sosial dan
agama yang kadang menjadi doktrin bahwa memberikan sesuatu kepada fakir
miskin(sedekah) adalah ibadah. Fialantropi sudah menjadi bagian dari kehidupan
sosial masayarakat kita. Sisi ini diakui atau tidak tidak juga justru
kadang menjadi motivasi bagi para pengemis untuk selalu melakukan
aktivitas meminta-minta. Tidak bermaksud menyalahkan tapi memang harus
ada pendekatan yang lebih tepat untuk mengatasi persoalan ini,karena
kalau tidak justru nilai baik dari filantropi akan membuahkan
kontardiksi yaitu adanya ketergantungan dari peminta-minta(pengemis) dan
itu justru akan melanggengkan proses itu.
Stop Memberikan Uang Pada Pengemis
Mungkin langkah ini terlihat kasar dan ekstrim, tapi paling tidak bisa
sedikit memutus mata rantai dari reproduksi pengemis yang semakin tidak
terkontrol. Kalau memang mereka membutuhkan makan maka berikan mereka
makan jangan uang, mungkin ini lebih tepat. Mari kita bersama-sama
peduli pada pengemis dengan tidak memberikan uang. Dan tentunya
pemerintah harus membuat kebijakan yang mengena untuk mengatasi
persoalan ini, bukan hanya pada menghentikan aktivitas pengemis dengan
meminta-mintanya tapi membuat terobosan untuk mengatasi persoalan
sosial ini. Karena pengemis ini bukan hanya soal ekonomi semata tapi problem
sosial juga sehingga membutuhka tool yang tepat juga disamping mengatasi
persoalan ekonominya juga mengobati penyakit sosial.
Mari Kita Peduli Dengan Berbuat Yang Tepat...
No comments:
Post a Comment